Kesuma80's Blog
Just another WordPress.com weblog

ANTARA JABARIAH DAN QODARIAH

Suatu Telaah Pemikiran Menjembatani Paham Qodariah dan Jabariah[1]

Oleh: Amrulloh[2]

Pendahuluan

Dalam pandangan para mutakallimin, seringkali perbincangan tentang manusia hampir selalu berujung pada tema-tema relasi teologis, seperti hubungan antara makhluk dengan Kholik. Tema-tema seperti itu, meskipun berat untuk dipikirkan, selalu menarik untuk di bicarakan paling tidak karena dua alasan. Pertama, karena manusia pada dasarnya merupakan makhluk religius, makhluk yang memiliki kesadaran keberagamaan yang pada tingkat tertentu dapat menjadi spirit yang sangat dominan. Seluruh kehendaknya digerakkan oleh kekuatan raksasa yang sering kali sulit dikendalikan. Bahkan kekuatan rasio sekalipun tidak lagi mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan penyeimbang sehingga akhirnya ia pasrah atas kehendak itu.

Munculnya kekuatan religi ini pada manusia sekaligus mencerminkan adanya batas-batas kehendak manusia, yang karena ketidak berdayaannya ia menjadi makhluk yang sangat fatalistic, dan hanya bergerak pada ketergantungan spiritual yang hampir tidak mengenal batas. Dalam sejarah peradaban umat manusia, watak teologis seperti ini pernah dituduh sebagai sumber utama ketertinggalan dan keterbelakangan. Sehingga muncul suatu asumsi bahwa ikhtiar membangkitkan karsa manusia hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan citra teologis itu pada pandangan yang lebih rasional.

Kedua, karena manusia juga pada saat yang sama merupakan makhluk rasional, makhluk yang berdasarkan fitrah penciptaannya dipandang memiliki kelebihan eksklusif. Fasilitas akal yang sengaja dianugerahkan Tuhan kepada manusia telah membentuk dirinya sebagai makhluk yang bebas dan merdeka. Kebebasan dan kemerdekaan berfikir inilah yang pada gilirannya telah memberikan warna pluralisik, baik pada tatanan sosial maupun spiritual.

Pola-pola berpikir teologis di atas, tanpa disadari kini telah melengkapi khazanah pemikiran Islam yang sangat progresif. Bahkan lebih dari itu, kehadiran produk berpikir tersebut, telah pula membentuk “semacam” madhab teologi yang secara dikotomik terbelah pada kekuatan Qodariah dan Jabariah.

Seperti apa yang telah diterangkan pada posisi atau kondisi kejadian Qodariah, kehendak Tuhan terlaksana melewati kehendak manusia. Pada posisi atau kondisi kejadian Jabariah, kehendak Tuhan terlaksana melewati kehendak kompleks yaitu kehendak alam lingkungan yang unsurnya komplek, dimana manusia juga menjadi salah satu unsurnya.[3]

Berdasarkan argumen diatas, maka makalah ini mencoba mengulas tentang kedua paham tersebut, bagaimana asal-usulnya, siapa tokoh-tokohnya, bentuk ajaran-ajarannya, dan aspek-aspek lain dalam kaitannya dengan Sejarah Pemikiran Islam. Paling tidak, kajian ini mampu memberi pendalam pemahaman kita terhadap faham Jabariah dan Qodariah.

Gambaran Umum Tentang Faham Jabariah dan Qodariah

  1. Asal-usul Jabariah dan Qodariah

Jabariah, Madzhab ini muncul bersamaan dengan kehadiran Qadariyah di daerah Kurasan, adalah aliran di ilmu kalam yang berpandangan bahwa segala yang wujud di alam semesta, termasuk manusia, terikat pada kodrat dan irodat Allah SWT semata. Jabariah adalah pemahaman yang mengatakan bahwa amal shalih bukanlah sebab masuknya kita ke sorga dalam segala hal, dan sebaliknya adalah Qadariyah, yang meyakini bahwa sorga adalah bayaran dari amal kita secara mutlak. dan kedua faham ini batil, bahwa kita beramal dan Allah swt menentukan diterimanya amal itu atau tidak. tentunya kita tak berpangku tangan, tidak pula mengandalkan amal untuk memastikan masuk sorga dan bebas dari neraka.[4]

Madzhab Qadariah muncul sekitar tahun 70 H ( 689 M ). Ajaran-ajaran ini banyak persamaannya dengan Mu’tazilah. Kehadiran Qadariah merupakan isyarat penentangan terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, aliran ini selalu mendapat tekanan dari pemerintah, namun paham Qadariah tetap berkembang. Dalam perkembangannya, paham ini tertampung dalam madzhab mu’tazilah.[5]

Gambaran tentang faham ini secara umum juga disampaikan oleh Philip K. Hitti dalam bukunya, yaitu: “Qadariya was one of the earliest philosophical schools of thought in Islam.”[6]

Kata jabariah berasal dari kata “jabara” (Arab: jabarîyah”, artinya “Paham Keterpaksaan[Manusia])”[7] yang artinya “memaksa”. Secara istilah Jabariah adalah suatu golongan yang mengatakan segala perbuatan manusia sesungguhnya datang dari Allah dengan kata lain segala perbuatan manusia terpaksa dilakukan.

Faham ini berasal dari memahami beberapa ayat-ayat Al-Qur’an, diantara Ayat yang menjadi alasan faham ini adalah :

“Allah menciptaan kamu dan apa yang kamu perbuat” (Q.S. Ash-Shaffat: 96)[8]

Qodariah berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan, sedangkan arti terminologinya adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.

Golongan ini menyatakan bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan, seperti ayat Qur’an menyatakan :

Artinya :

“ Katakanlah, kebenaran dari Tuhanmu, barang siapa yang mau (beriman) beriman lah ia, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir (Q.S. Al-Kahfi : 29)[9]

Firman Allah :

Artinya :

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecuali mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-Ra’ad : 11)[10]

  1. Tokoh-tokoh Jabariah dan Qodariah

Faham Jabariah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah. Ide jabariah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan, yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah. Di samping menerima ide jabariah, Jahm juga mengembangkan pemikiran-pemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana, iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl, kalam Allah bersifat tidak qadim, Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat.

Sedangkan faham Qadariah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri, bebas dari kehendak Allah. Jadi, perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah.

Jaham ibn Shafwan (wafat 129 H/746 M), pembangun aliran Jabariah, adalah bekas Paderi[11] Nasrani. Begitupun Ghailan Al Dimsyaqi[12]

  1. Ajaran-ajaran Jabariah dan Qodariah

1. Ajaran-ajaran(doktrin) Jabariah

a. Golongan Ekstrim

Mengatakan bahwa segala sesuatu perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan pada dirinya.

Pendapat Jham bin Shofyan orang dari khurasan dan tinggal di Khuffah mengatakan tentang teologi Jabariah Ekstrim adalah:

  1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak mempunyai daya, tidak mempunyai pilihan.
  2. Surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal selain Tuhan
  3. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.
  4. Al-qur’an adalah makhluk.

b. Golongan Moderat

Mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan baik dan buruk, tetapi manusia mempunyai bagian didalamnya.

Pendapat An-Najjar (wafat : 230 H) diantara pendapatnya dari Jabariah Moderat dari golongan Jabariah Moderat adalah :

1. Tuhan menciptakan segala sesuatu perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.

2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat nanti, tetapi Tuhan bisa saja memindahkan hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.

Namun secara garis besarnya Ajaran faham mereka adalah;

a.  Iman dan taat, serta kufur dan maksiat semata-mata dari Allah. Tiada manusia berbuat, bercita-cita dan berdoa.

b.  Gugur taklif syarak daripada hamba.

c.  Berbuat baik tidak dapat kebajikan atau pahala, berbuat maksiat tidak dapat  balasan dan putus asa daripada rahmat Allah.

d.  Berbuat baik tidak dapat pahala, berbuat jahat tidak dapat siksa.

e.  Tafakur itu lebih baik daripada segala ibadah fardhu atau sunah.

f.  Siapa yang menjadi kekasih Allah dan bersih daripada hawa nafsu yang jahat dan berilmu tidak perlu lagi berbuat amal ibadah.

g.  Bahwa orang-orang kafir dan ahli-ahli maksiat tidak akan ditanya di akhirat kelak karena segala-galanya itu Allah yang melakukannya.

h.  Bahwa Allah tidak menyiksa semua hamba-hambanya, kalau Allah menyiksa

juga maka Allah itu zalim.

i.       Allah meghidupkan semua yang kafir dan segala orang yang bersalah di dalam neraka, setelah itu dimatikan pula dan tidak hidup lagi selama-lamanya.

j.      Apabila Allah selesai menciptakan makhluk maka beristirahatlah Ia. Setiap suatu yang zahir pada waktunya yang ditetapkan itu, dengan sendirinya putus hubungan dengan Allah.

k.     Apabila sampai kepada derajat kekasih Allah (wali Allah) yang tinggi gugurlah taklif syara’ hanya tafakkur semata-mata.

l.       Harta dunia bersyarikat di antara semua keturunan Adam dan Hawa, halal mengambilnya tidak hak tagihan ahlinya.

m.   Apabila terasa dalam hati hendak melaksanakan sesuatu kebajikan atau kejahatan hendaklah segera mengerjakannya karena itu wahyu Allah yang dimasukkan di dalam hati.

n.     Barangsiapa belajar ilmu jadilah ia berada dalam syirik dan meneguhkan daripadanya jadilah ia kafir.

o.     Bahwa semua yang difardhukan oleh Allah boleh dikerjakan jika rajin dan boleh ditinggalkan jika malas.

p.     Segala perintah Allah itu hanya sekali saja tidak berulang-ulang.

q.     Hamba tiada mukallaf selain daripada iman dan kufur.

r.      Disebut mukmin hanya mengucap dua kalimah syahadat, menghilangkan dua kalimah syahadat jadi kafir. Tidak perlu lagi melaksanakan lebih daripada itu.

2. Ajaran-ajaran(doktrin) Qodariah

Golongan ini menyatakan bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan, dan secara garis besar Ajaran faham mereka adalah;

a.     Segala usaha ikhtiar, semata-mata dari Manusia. Tiada campur tangan Allah dalam perbuatan itu.

b.     Syaitan itu serupa dengan Allah kerana tidak mempunyai wujud yang nyata.

c.     Berbuat kejahatan itu seperti syaitan dan berbuat kebaikan itu seperti Allah.

d.     Qada’ dan Qadar itu bukan daripada Allah.

e.     Beramal ibadah itu sia-sia karena tiap-tiap baik dan jahat itu azali.

f.      Tidak ada syurga, neraka, hisab, mizan dan belum dijadikan Allah.

g.     Bahwa segala amal ibadah daripada hamba semata-mata tidak diketahui memperoleh pahala atau siksa jika melaksanakan atau meninggalkannya.

h.     Bahwa Allah tiada menjadikan syaitan karena jika Allah menjadikan syaitan maka Allah juga menjadikan kekufuran maka sesungguhnya Allah itu berkehendak wujud kekufuran.

i.       Bahwa segala amal ibadah Allah semata-mata iman dan kufur.

j.      Benci kepada shalat fardhu dan suka kepada shalat sunah. Maka shalat yang empat rakaat dijadikan dua rakaat saja.

k.     Segala kitab-kitab Allah yang turun dari langit tidak mansuh, wajib beramal dengan semua isi kandungannya.
Telaah Pemikiran Antara Paham Qodariah dan Jabariah

Perbuatan Tuhan dan Manusia

Dari gambaran diatas penulis memberikan analisa bahwa Perbuatan manusia, siapakah yang melakukan, manusia atau Tuhan? Pertanyaan tersebut telah diperdebatkan di dalam sejarah teologi Islam. Perdebatan itulah yang melahirkan dua faham ini. Menurut faham jabariah, perbuatan jabariah pada dasarnya bukan manusia yang melakukannya, tetapi tuhan.

Manusia tidak berdaya atas perbuatannya. Kalaupun ada daya di dalam diri manusia untuk berbuat, maka daya tersebut tidak efektif. Yang efektif adalah daya tuhan yang menentukan perbuatan manusia. Jadi menurut faham ini bisa dikatakan posisi manusia jabariah dengan perbuatannya, digambarkan bagai kapas yang melayang menurut arah mata angin saja. Atau, bagai wayang yang berlakon (jawa:bertindak), tapi lakon itu sepenuhnya oleh dalang.

Adapun dalam faham Qodariah, perbuatan manusia dilakukan oleh manusia, bukan Tuhan. Daya yang diberikan Tuhan ke dalam diri manusia, dipakai sepenuhnya oleh manusia untuk melakukan perbuatannya.

Dalam hal ini, faham Jabariah melahirkan manusia fatalistik. Sedang, faham Qodariah melahirkan manusia optimistik. Karena bebas melakukan perbuatannya, maka menjadi logis dalam teologi Qodariah, jika manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. Akan tetapi, logiskah untuk meminta tanggung jawab serupa, teologi Jabariah, di mana manusia terpaksa dengan perbuatannya karena Tuhan yang menentukan?

Bagaimana dengan nasib hidup manusia?

Lantas… bagaimana kita selaku manusia mensikapi akan kedua konsep faham tersebut? Seperti juga makhluk ciptaan Tuhan lainnya tanpa terkecuali, garis kehidupan manusia telah di polakan oleh Tuhan. Hanya makhluk berakal seperti manusia yang mampu melakukan “improvisasi” atas pola hidupnya dan juga bisa jadi mempengaruhi pola hidup makhluk lainnya. Diluar makhluk yang berakal, semua mengikuti fitrahnya hanyut ke dalam pola kehidupan yang telah final digariskan Tuhan mengikuti evolusi yang dirancang Tuhan dengan keseimbangan kosmos, keseimbangan lingkungan sebagai motor kompas[13] gerakannya.

Proses “improvisasi” atas pola kehidupan pemberian Tuhan bukan tidak terbatas. Kemampuan manusia berimprovisasi telah ditakar oleh Tuhan dalam bentuk qodar baik dalam bentuk potensi bakat atau software program[14] kehidupan tertentu.

Proses “improvisasi” manusia atas pola kehidupannya sendiri yang telah digariskan oleh Tuhan dibatasi oleh qadar tuhan atas masing-masing manusia itu sendiri yaitu oleh potensi yang dianugerahkan Tuhan atasnya.

Tergantung kepada manusia sendiri ingin memasukkan “input” seperti apa ke dalam “software program” kehidupannya. Akan tetapi untuk mendapatkan “input” itu sendiri sudah ada pula takarannya, takaran dari Tuhan, sehubungan potensi lahir dan batin manusia yang telah ditakar pula oleh-Nya. Oleh karenanya, “output”nya atau perolehan nasib kehidupannya tertakar pula kisarannya dari nilai minimum ke maksimum. Memang manusia berusaha, tetapi tidak lepas dari ketentuan manusia yang telah terukir kisarannya. Hanya perlu dicamkan bahwa bentuk “improvisasi” dapat berdampak mengurangi nilai akumulasi keseluruhan usaha manusia yang bersangkutan.

Maka bisa dikatakan, manusia bebas melakukan apapun sesuai apa yang dikehendakinya. Namun pada dasarnya ia tidak sepenuhnya bebas. Manusia sebenarnya telah terikat kepada setiap apa yang ia lakukan dalam artian antara lain menanggung seluruh akibat atas apa yang ia lakukan. Keterikatan kepada akibat atas apa yang ia lakukan tidak mungkin di hindarkan karena keberadaan manusia sebagai unsur alam yang harus patuh kepada aturan-aturan Tuhan berupa hukum alam atau sunnatullah. Seperti telah berkali-kali disebutkan bahwa bunyi sunnatullah perihal ini antara lain tercantum dalam (QS. 52: 21)[15] tersebut bahwa setiap orang terikat dari apa yang ia usahakan.

Contoh, umpamanya kasus manusia dapat membunuh semut dengan kesengajaannya sehingga manusia mengaku mampu menentuan umur semut tersebut adalah seperti Fir’aun yang dapat menentukan hidup dan matinya manusia di bawah kekuasaannya. Dalam kasus ini, manusia di bawah kekuasaannya. Dalam kasus ini, manusia dan Fir’aun tersebut memiliki kekuasaan atau kekuatan pemberian Tuhan untuk melaksanakan kehendak mereka. Manusia dan Fir’aun tersebut dapat menguasai sebab-sebab kejadian yang dikehendakinya untuk terjadi. Kehendak Tuhan melewati kehendak manusia dan Far’aun tersebut. Dalam kondisi seperti inilah manusia dapat mengatakan bahwa ia dapat menentukan nasib kehidupan berkat anugerah limpahan kehendak dan kekuasaan Tuhan kepadanya. Bahwa apa yang ia dapatkan tergantung dari apa yang ia usahakan baik lahir maupun batin atau dunia maupun akhirat. Pada posisi seperti inilah ayat-ayat suci al-Qur’an yang mendukung paham Qodariah dimaknakan. Kondisi atau posisi seperti inilah kondisi atau posisi Qodariah.

Akan tetapi, tidak semua kejadian terjadi dengan kondisi Qodariah, dimana manusia mampu menguasai atau mengendalikan sebab-sebab terjadinya suatu kejadian bahkan sangat banyak kejadian mulai dari musibah hingga keberuntungan di mana manusia sama sekali tidak berdaya atas suatu kejadian yang menimpa diri atau masyarakatnya. Sebagai missal, orang yang terkena musibah kecelakaan pesawat terbang seperti juga musibah tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya di laut Merah pada zaman Nabi Musa as. Terjadi diluar kehendak mereka yang terkena musibah. Mereka sama sekali tidak berdaya mengendalikan sebab-sebab terjadinya musibah, mereka terpaksa atau dipaksa oleh kehendak kompleks, yaitu kehendak alam lingkungan yang unsurnya kompleks untuk menerima musibah tersebut. Kehendak Tuhan terlaksana melewati kehendak kompleks. Ini bukan hanya dalam peristiwa musibah saja, banyak juga peristiwa keberuntungan kejadiannya sama sekali diluar kesengajaannya. Inilah posisi atau kondisi Jabariah. Pada posisi seperti inilah ayat-ayat suci al-Qur’an yang mendukung paham Jabariah dimaknakan.

Benar yang mana, Jabariah atau Qodariah?

Kalau memang demikian adanya .. lantas pertanyaan timbul dalam benak kita, mana yang lebih baik ? .. Jabariah ataukah Qodariah? .. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu .. Allah Juga menentukan segala sesuatu .. tapi baik buruk amal perbuatan manusia .. adalah tergantung dari pribadi manusia itu sendiri toh?… Segala puji bagi Allah yang dengan kuasa-Nya kita diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya .. “Al-ikhtilaafuRrahmah” begitu kata ROSUL .. dan sebaik-baik permasalahan solusinya adalah apa yang diantara keduanya alias yang ditengah-tengah .. “Khoirul-Umuri AusaatuHa” begitu sabda ROSUL .. intinya semua tergantung iman kita masing-masing , ya toh?

Paham Jabariah dan Qodariah yang kedua-duanya dilandasi ayat-ayat suci al-Qur’an, tidak diragukan mengandung kebenaran. Adapun kedua paham teologi tersebut menjadi berseberangan dan konon pernah saling mengkafirkan[16] adalah suatu hal yang sangat wajar, manusiawi, sehubungan manusia mempunyai banyak keterbatasan dan terutama belum berkembangnya ilmu baru yang mampu mendukung penggabungannya. Untuk itu, kita perlu selalu mempertahankan sifat rendah hati, tawadhu’, karena manusia memang rentan dengan kelemahan serta keterbatasan. Sesuatu yang dianggap benar oleh sebagian orang menjadi kurang benar oleh sebagian orang lain di hari kemudian, karena berkembangnya ilmu pengetahuan.

Dalam praktek kehidupan manusia sehari-hari, tidak seluruh keinginan manusia dapat dicapai oleh jerih payah usahanya seperti yang dikehendakinya. Kadang-kadang dapat tercapai dan kadang-kadang tidak. Banyak pula perolehan manusia yang di dapat diluar kesengajaan usahanya. Dalam kesehariannya, kehidupan manusia diperoleh melewati kondisi atau posisi Qodariah dan posisi Jabariah atau berkisar dari kondisi Qodariah hingga Jabariah.

Penutup

Dengan memandang dan melewati alur berpikir seperti di atas, maka paham Jabariah dan Qodariah menjadi satu pandangan teologi yang lebih utuh. Oleh karenanya, ayat-ayat suci pendukung paham Qodariah dan Jabariah sama sekali tidak bertentangan melainkan saling melengkapi adanya.

Demikian uraian singkat tentang pembahasan faham Jabariah dan Qodariah sebagai materi penghantar untuk melakukan kajian mendalam selanjutnya. Mudah-mudahan dapat dicerna dan difahami dengan baik. Amin ya robbal ’alamin.

DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, M. Yusran, Ilmu Tauhid, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999 )

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya. Mahkota.1989

Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al.

Fathul Baari Almasyhur juz 11

Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta; Bulan Bintang, 1976)

Philip K. Hatti, History of Syria including Lebanon and Palestine, (Macmillan Press, London, 1970)


[1] Makalah disampaikan pada diskusi mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam semester 1 Prodi Pendidikan Agama Islam(PAI) Program Pascasarjana STAIN Bengkulu, Tahun Akademik 2009/2010

 

[2] Mahasiswa Program Pascasarjana STAIN Bengkulu

[3] Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al.,

[4] Fathul Baari Almasyhur juz 11 hal 296

[5] Asmuni, M. Yusran, Ilmu Tauhid, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999 )

[6] History of Syria including Lebanon and Palestine, by Philip K. Hitti, pg. 499

[7] Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al.,

[8] Q.S. Ash-Shaffat: 96

[9] Q.S. Al-Kahf : 29

[10] Q.S. Ar-Ra’ad : 11

[11] Pejuang(penulis)

[12] Fathul Baari Almasyhur juz 11 hal 296

[13] Maksudnya: penunjuk arah

[14] Maksudnya: seperangkat program tertentu yang dimasukkan kedalam

[15] Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

[16] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan,(Jakarta; Bulan Bintang, 1976)

Belum Ada Tanggapan to “ANTARA JABARIAH DAN QODARIAH”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: